Problematika Pembelajaran Matematika SD

Matematika Kelas Rendah

Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, penegtahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (Mansur, 2007:29). Salah satu komponen untuk mencapai tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika tingkat sekolah dasar.

Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk susunan, besaran dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam jumlahnya terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.

Matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak sehingga dituntut kemampuan yang besrsifat abstrak sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa (H.W. Fowlwer dalam Pandoyo,1997:1). Untuk itu, diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.

 

Pembelajaran matematika yang hanya menekankan pada pemerolehan informasi sebagai kumpulan pengetahuan sebelumnya merupakan pandangan kaum behavioristik. Menurut kaum behavioris, pengetahuan itu pengumpulan secara pasif dari subyek dan obyek yang diperkuat oleh lingkungannya (Bettencourt dalam Suparno, 1997:62).

Berbeda dengan behaviorisme, konstruktivisme beranggapan pengalaman adalah hasil konstruksi manusia melalui interaksi mereka dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka (Suparno, 1997:28). Menurut konstruktivisme seorang harus menentukan dan mengkonstruk pengetahuannya sendiri secara aktif. Bila behaviorisme menekankan ketrampilan sebagai tujuan pengajaran, konstruktivisme lebih menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam (Suparno, 1997:59).

 

Pembelajaran matematika yang terjadi selama ini adalah pembelajaran yang hanya menekan pada perolehan hasil dan mengabaikan pada proses. Sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan dalam bentuk soal yang lain. Akibat dari pembelajaran yang hanya menekankan hasil adalah hasil yang dicapai tidak tahan lama atau anak akan mudah lupa pada materi pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.

Salah satu permasalahan yang terjadi di Pembelajaran Matematika kelas rendah adalah operasi hitung yang bilangan pengurangya mengandung angka yang lebih besar. Misalnya 31 – 19 = …

Untuk memecahkan problematika pembelajaran tersebut maka guru perlu menggunakan, media, dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi yang digunakan dalam pembelajaran. Secara lebih rinci untuk mengatasi permasalahan  tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Menggunakan media benda kongkret. Mengapa menggunakan media yang konkret untuk penaman konsep pengurangan? Sebab dalam usia siswa SD kelas rendah (7-9 tahun) tahap pemikiran anak adalah tahap pemikiran konkrit. Dalam tahapan pemikiran kongkrit ini proses pembelajarannya memerkun media benda-benda yang kongkrit, misalnya menggunakan kelereng, biji-bijian, buah-buahan dan lainnya. Dengan pembelajaran pengurangan menggunakan media kongkrit ini anak tahu proses pengurangan secara lebih bermakna. Menurut Peget pada usia siswa SD kelas rendah perkembangan intelektualnya pada tahap operasional kongkrit, yang pengembangan pemikirannya secara logis.
  2. Menggunakan gambar benda kongkrit. Melambangkan nilai bilangan dengan gambar benda kongkrit sehingga siswa dapat melakukan operasi matematika yang mengandung bilangan pengurang yang lebih besar.
  3. Menentukan hasil pengurangan dengan cara panjang.    
  4. Menentukan hasil bilangan secara bersusun.
  5. Bermain peran.
  6. Menggunakan model pembelajaran STAD (Student Team Achiefment Devision).

Hal lain yang penting dalam pembelajaran matematika adalah mengkaitkan materi pembelajaran dengan lingkungan sekitar siswa atau lebih dikenal dengan pembelajaran kontekstual (Contekstual Learning). Dengan demikian anak dapat menggunakan operasi hitung dalam kehupan sehari-hari. Pembelajaran yang kontekstual antara lain menggunakan soal cerita. Soal cerita dibuat dengan menggunakan lingkungan sekitar sebagai obyek dalam mebuat soal cerita. Misalnya daerah panta menngunaka soal cerita menggunakan ikan, kerang, daerah penggunungan menggunakan buah-buahan  dan sayuran.

 

Oleh : Abdul Azis, guru SDN Andonosari IV Kec. Tutur Kab. Pasuruan.